Skip to main content

IPAL Komunal Kota Malang Bisa Jadi Rujukan Internasional

IMG_20140523_142731Kebutuhan akan sanitasi yang layak bagi masyarakat secara nasional pencapaiannya masih jauh jari apa yang disepakati dalam Milenium Development Goals (MDG’s). Untuk mengejar kekurangan tersebut Pemerintah Kota Malang terus berupaya untuk  menyediakan sanitasi yang prima bagi masyarakat salah satunya dengan membuat IPAL Komunal khususnya yang ada di pemukiman-pemukiman kumuh yang ada di masyarakat.

Melalui Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) Urban Sanitation and Rural Infrastruktur sampai dengan tahun 2014 ini sudah terbangun 39 Unit Ipal yang tersebar di beberapa kelurahan di Kota Malang dan yang masih dalam tahap pembangunan ada 15 titik lokasi, diharapkan di akhir tahun 2014 ini melalui program USRI bisa terbangun 54 titik IPAL Komunal.

Teknologi IPAL Komunal dipilih untuk mengatasi permasalahan sanitasi di Kota Malang karena disadari bahwa masih sangat banyak rumah-rumah di kawasan permukiman kumuh yang belum memiliki sarana sanitasi pembuangan limbah rumah tangga yang sehat. Sebagian besar dari mereka meskipun dirumahnya memiliki MCK tetapi pembuangan limbahnya masih langsung dibuang ke sungai, sebagian besar masih belum memiliki septitank sendiri di rumahnya, kalaupun ada sebagian besar masih kurang standar baik dari segi kontruksi maupun kurangnya perhatian dari masyarakat sendiri yang jarang sekali bahkan ada yang tidak pernah menguras septitanknya secara rutin. Dari hasil tes laboratorium yang dilakukan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat pada lokasi yang menerima program USRI, Sebagian besar sumur warga sudah tercemar bakteri Ecoli yang berbahaya bagi kesehatan. Ini terjadi karena jarak yang sangat dekat antara septitank warga dengan sumur dikarenakan jarak antar rumah dan luas rumah yang sangat dekat dan sempit.

Melalui Program USRI masing-masing MCK di rumah penduduk dihubungkan dengan perpipaan menuju IPAL Komunal yang dibangun. Rata-rata 1 IPAL komunal menampung 50 s/d 90 limbah dari rumah warga sekitar.  Salah satu kendala yang dihadapi dalam program USRI adalah ketersediaan lahan yang harus disediakan dimana minimal terdapat lahan seluas 100 meter persegi yang merupakan fasilitas umum maupun hibah dari masyarakat. Selain itu adalah IPAL Komunal masih merupakan hal yang baru sehingga banyak masyarakat yang ketakutan diwilayahnya dibangun IPAL, warga khawatir akan timbul bau yang tidak enak dari IPAL yang dibangun.

Setelah 3 tahun berjalan masyarakat sudah mulai sadar dan tertarik untuk dibangunkan IPAL Komunal di wilayahnya setelah meihat bukti nyata dari manfaat IPAL komunal yang sudah jadi. Sekarang IPAL Komunal yang ada di Kota Malang bisa dijadikan rujukan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah yang ingin membangun IPAL Komunal di daerahnya. Banyak sudah pemerintah daerah dan masyarakat yang sudah melakukan study banding ke IPAL-IPAL komunal yang ada di Kota Malang. Tercatat yang sudah melakukan kunjungan ke IPAL Komunal di Kota Malang adalah perwakilan dari pemerintah daerah se DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang didaerahnya ada program DAK Sanitasi sudah berkunjung ke IPAL di Kota Malang, mereka mengunjungi IPAL Komunal di Mergosono, Kasin dan Buring, selain itu para pendamping DAK Sanimas juga dalam rangka pelatihannya mengunjungi IPAL Komunal di Kota Malang.

Delegasi Forum Indonesia Water Week (IWW) yang pada waktu itu sedang melakukan pertemuan membahas percepatan pembangunan sanitasi di Indonesia di Surabaya tak lupa juga mengunjungi IPAL Komunal di Kelurahan Purwantoro. Delegasi yang terdiri dari 26 Negara dan beberapa perwakilan pemerhati lingkungan di Indonesia serta dari kampus-kampus ternama di tanah air terkesan dengan pembangunan IPAL yang dilakukan di Purwantoro. Penggiatnya sebagian besar adalah ibu-ibu, mereka terlibat mulai awal baik dalam tahap perencanaan, pembangunan konstruksi dan pemeliharaan. Ini membuktikan bahwa urusan pembangunan dan penataan lingkungan khususnya sanitasi bukan hanya urusan kaum pria, bahkan di IPAL Komunal Kelurahan Purwantoro justru tingkat keberhasilannya karena adanya dukungan dari kaum ibu, sungguh sebuah prestasi yang membanggakan.

Sebuah pesan yang masih teringat di pikiran para penggiat Sanitasi di Kota Malang disampaikan oleh Bapak DR. Shofwan SH. Msi ketika Kota Malang akan memulai program USRI 3 tahun yang lalu “Kita harus bisa menjadikan kotoran/limbah keluarga menjadi Mutiara” kata-kata motifasi yang beliau sampaikan sudah mulai terwujud IPAL Komunal yang ada di Kota Malang sudah bisa menjadi rujukan, tempat belajar dan study banding bagi masyarakat Indonesia, penanganan sanitasi yang baik, tanpa disadari juga bisa mendukung TRI BINA CITA KOTA MALANG. Masyarakat dan pemerintah daerah di Indonesia bisa belajar Sanitasi di IPAL Komunal Kota Malang, secara tidak langsung pariwisata di Kota Malang pun bisa ikut terangkat. (Eko Wahyu Widodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *